

Tangerang - Politikus PDI Perjuangan Adian Napitupulu meminta Menteri BUMN Erick Thohir untuk membuka siapa sosok yang disebutnya sebagai mafia alat kesehatan (Alkes). Pasalnya menurut Adian, tudingan Erick mengenai dugaan adanya mafia merupakan bola liar yang bisa menyasar ke arah mana pun.
"Tanpa ada angin badai, tiba-tiba Erick Thohir sebagai Menteri BUMN berbicara tentang mafia alkes. Pernyataan adanya mafia adalah pernyataan serius yang bisa menyasar ke siapa pun," kata Adian kepada awak media, Selasa, 21 April 2020.
Adian mengatakan, penyataan Erick Thohir yang menyertakan kalimat 'mereka yang mendominasi', berpotensi dicerna masyarakat mengarah ke dua lembaga negara yang terkait dalam penanganan wabah virus corona (Covid-19) di Indonesia, yakni Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Usaha Milik Negara.
"Aneh tidak, BNPB yang keluarkan rekomendasi impor, BUMN ikutan mendominasi impor. Tapi Menteri BUMN-nya sekarang bicara bahwa ada yang mendominasi impor alkes. Jadi sebenarnya siapa mafianya pak Menteri ?," kata Adian.
Adian menduga, pernyataan Erick Thohir memang menyasar ke arah oknum di BNPB. Namun begitu, ia juga meniai adanya potensi bahwa sang menteri tengah menegur anak buahnya. "Tapi bisa juga Erick sedang menegur oknum atau BUMN di bawah Kementriannya," kata dia.
Selanjutnya, Adian meminta Erick Thohir untuk segera melaporkan kepada Presiden Jokowi, Kepolisian dan KPK jika telah memiliki bukti yang cukup kuat. Sekjen Pena 98 itu meminta agar sang menteri segera melakukan tindakan tegas alih-alih hanya berbicara kepada media.
"Lengkapi bukti-bukti terus tangkap. Jangan cuma bicara ke media saja dan membuat rakyat serta pelaku saling curiga," ujarnya.
"Ini situasi dimana semua tertekan, jangan ditambah dengan tuduhan kanan-kiri lagi. Sementara kebutuhan alkes dan obat untuk 260 juta jiwa tidak sedikit dan tentunya Negara belum tentu mampu memenuhi semuanya sendiri," kata Adian.
Menurut data, jumlah alkes dan obat-obatan yang berhasil dihimpun BUMN adalah sebagai berikut: Perusahaan RNI melakukan impor 500.000 rapid test dari Cina, Indo Farma impor 100.000 rapid test, dan Kimia Farma mengimpor sebanyak 300.000 rapid test, hingga total impor rapid test sudah ada sebanyak 900.000 buah.
Berikutnya BUMN juga melakukan impor bahan baku untuk produksi 4,7 juta masker dari luar negeri. Perusahaan Bio Farma melakukan impor bahan baku untuk 500.000 obat dari India untuk membuat Oseltamivir.
Baca juga: Erick Thohir Putuskan Tak Ada THR Bagi Petinggi BUMN
BUMN juga melakukan impor 2 juta Avigan, bahan pembuat 3 juta klorokuin, 20 PCR dari Farmas Roche Swiss, serta bahan baku APD dari China dan Korea. []
Berita terkait
Sumber : Tagar.id
LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.
