loading...

Rabu, 29 Mei 2019

Vinsensia Ade Sugiawati, kelahiran Wiwitan (Walmas), 18 April 1991, ini meraih gelar doktor (S3) di Perancis khusus bidang kimia. Ia mendapat gelar tersebut di usianya yang terbilang muda, yakni 28 tahun. Kabar tersebut didapat saat melihat dinding (wall) medsos Ade, sapaan akrab Vinsensia. Di FB-nya, Ade mengunggah beberapa foto saat ia mempresentasekan disertasinya di hadapan penguji di kampus Aix-Marseille Université, Prancis, Kamis 25 April 2019, lalu. Ia pun berhasil meyakinkan para penguji, berkat hasil penelitiannya tentang baterai mikro. Yakni, membuat baterai berukuran mikro dengan menggunakan elektroda TiO2 nanotubes dan elektrolit polimer. Dimana, sintesis TiO2 nanotubes dilakukan dengan menggunakan metode anodisasi dan substrat fleksibel untuk aplikasi baterai yang fleksibel. Adapun baterai mikro yang berhasil ia kembangkan berukuran 0,442 cm persegi, dengan diameter kurang dari 1 cm. Baterai tersebut diklaim tahan untuk 100 kali siklus. “Sekarang kalau untuk riset, kita tes minimal 100 siklus charge/discharge. Kalau masih skala laboratorium, kita mengembangkan material dulu,” ujarnya, akhir pekan lalu via massenger. Baterai mikro tersebut, kata Ade,nantinya bisa digunakan untuk menghidupkan perangkat (devices) kecil. Misalnya untuk aplikasi wearable devices di bidang kesehatan. Berkat keahliannya tersebut, perusahaan dunia Microsoft langsung menghubunginya untuk melakukan kerja sama penelitian. “Kita akan memulai kerja sama dengan Microsoft untuk pengembangan baterai mikro untuk aplikasi smart contact lenses,” sebut putri dari pasangan Sugiarto, Guru SMKN 2 Palopo, dan Ibu Watini. Selanjutnya, kata Ade, juga ada kerja sama dengan Samsung, dalam hal meneliti baterai yang fleksibel. Adapun project smart contact lenses yang sementara berjalan dengan Microsoft, baterai micro tersebut akan digunakan pada lensa kontak. Pada lensa ini, baterai yang dikembangkan memiliki wujud transparan. Sehingga memudahkan penggunanya untuk melihat. “Jadi nanti akan langsung terhubung dengan aplikasi khusus, serta akan diintegrasikan juga dengan sensor, antena, dan rectifier,” jelasnya. Lensa kontak inipun, kata Ade, nantinya lebih membantu. Cc:Palopopos.com Download with nice filename | Makassar Info Berita Terbaru



Vinsensia Ade Sugiawati, kelahiran Wiwitan (Walmas), 18 April 1991, ini meraih gelar doktor (S3) di Perancis khusus bidang kimia. Ia mendapat gelar tersebut di usianya yang terbilang muda, yakni 28 tahun.

Kabar tersebut didapat saat melihat dinding (wall) medsos Ade, sapaan akrab Vinsensia. Di FB-nya, Ade mengunggah beberapa foto saat ia mempresentasekan disertasinya di hadapan penguji di kampus Aix-Marseille Université, Prancis, Kamis 25 April 2019, lalu.

Ia pun berhasil meyakinkan para penguji, berkat hasil penelitiannya tentang baterai mikro.

Yakni, membuat baterai berukuran mikro dengan menggunakan elektroda TiO2 nanotubes dan elektrolit polimer. Dimana, sintesis TiO2 nanotubes dilakukan dengan menggunakan metode anodisasi dan substrat fleksibel untuk aplikasi baterai yang fleksibel.

Adapun baterai mikro yang berhasil ia kembangkan berukuran 0,442 cm persegi, dengan diameter kurang dari 1 cm.

Baterai tersebut diklaim tahan untuk 100 kali siklus. “Sekarang kalau untuk riset, kita tes minimal 100 siklus charge/discharge. Kalau masih skala laboratorium, kita mengembangkan material dulu,” ujarnya, akhir pekan lalu via massenger.

Baterai mikro tersebut, kata Ade,nantinya bisa digunakan untuk menghidupkan perangkat (devices) kecil. Misalnya untuk aplikasi wearable devices di bidang kesehatan.

Berkat keahliannya tersebut, perusahaan dunia Microsoft langsung menghubunginya untuk melakukan kerja sama penelitian. “Kita akan memulai kerja sama dengan Microsoft untuk pengembangan baterai mikro untuk aplikasi smart contact lenses,” sebut putri dari pasangan Sugiarto, Guru SMKN 2 Palopo, dan Ibu Watini.

Selanjutnya, kata Ade, juga ada kerja sama dengan Samsung, dalam hal meneliti baterai yang fleksibel.

Adapun project smart contact lenses yang sementara berjalan dengan Microsoft, baterai micro tersebut akan digunakan pada lensa kontak.

Pada lensa ini, baterai yang dikembangkan memiliki wujud transparan. Sehingga memudahkan penggunanya untuk melihat. “Jadi nanti akan langsung terhubung dengan aplikasi khusus, serta akan diintegrasikan juga dengan sensor, antena, dan rectifier,” jelasnya.

Lensa kontak inipun, kata Ade, nantinya lebih membantu.

Cc:Palopopos.com

Download with nice filename



Sumber : VinsensiaAde Sugiawati, kelahiran Wiwitan (Walmas), 18 April 1991, ini meraih gelar doktor (S3) di Perancis khusus bidang kimia. Ia mendapat gelar tersebut di usianya yang terbilang muda, yakni 28 tahun. Kabar tersebut didapat saat melihat dinding (wall) medsos Ade, sapaan akrab Vinsensia. Di FB-nya, Ade mengunggah beberapa foto saat ia mempresentasekan disertasinya di hadapan penguji di kampus Aix-Marseille Université, Prancis, Kamis 25 April 2019, lalu. Ia pun berhasil meyakinkan para penguji, berkat hasil penelitiannya tentang baterai mikro. Yakni, membuat baterai berukuran mikro dengan menggunakan elektroda TiO2 nanotubes dan elektrolit polimer. Dimana, sintesis TiO2 nanotubes dilakukan dengan menggunakan metode anodisasi dan substrat fleksibel untuk aplikasi baterai yang fleksibel. Adapun baterai mikro yang berhasil ia kembangkan berukuran 0,442 cm persegi, dengan diameter kurang dari 1 cm. Baterai tersebut diklaim tahan untuk 100 kali siklus. “Sekarang kalau untuk riset, kita tes minimal 100 siklus charge/discharge. Kalau masih skala laboratorium, kita mengembangkan material dulu,” ujarnya, akhir pekan lalu via massenger. Baterai mikro tersebut, kata Ade,nantinya bisa digunakan untuk menghidupkan perangkat (devices) kecil. Misalnya untuk aplikasi wearable devices di bidang kesehatan. Berkat keahliannya tersebut, perusahaan dunia Microsoft langsung menghubunginya untuk melakukan kerja sama penelitian. “Kita akan memulai kerja sama dengan Microsoft untuk pengembangan baterai mikro untuk aplikasi smart contact lenses,” sebut putri dari pasangan Sugiarto, Guru SMKN 2 Palopo, dan Ibu Watini. Selanjutnya, kata Ade, juga ada kerja sama dengan Samsung, dalam hal meneliti baterai yang fleksibel. Adapun project smart contact lenses yang sementara berjalan dengan Microsoft, baterai micro tersebut akan digunakan pada lensa kontak. Pada lensa ini, baterai yang dikembangkan memiliki wujud transparan. Sehingga memudahkan penggunanya untuk melihat. “Jadi nanti akan langsung terhubung dengan aplikasi khusus, serta akan diintegrasikan juga dengan sensor, antena, dan rectifier,” jelasnya. Lensa kontak inipun, kata Ade, nantinya lebih membantu. Cc:Palopopos.com

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...