loading...

Selasa, 19 Februari 2019

Muhammad Rusdi (21) hanya bisa pasrah dengan hukuman yang dijalaninya. Labelnya sebagai pembunuh Aldama Putra (19) bakal dibawanya seumur hidup. Taruna tingkat 2 Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar itu tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Air mata bercucuran. Berulang kali, ungkapan maaf berhamburan dari mulutnya yang bergetar. Ia sungguh menyesali kejadian yang menewaskan anak semata wayang Pelda Daniel Pongkala itu. ⠀ "Maafkan saya, Pak. Biar bapak mau bunuh saya sekarang juga. Namun saya yakin tidak sendiri (menyebabkan kematian Aldama, red). Saya tidak mau kalau cuma saya saja yang jadi kambing hitam. Banyak ini, Pak," cecar Rusdi. Seperti itulah kondisi tersangka kasus penganiayaan taruna ATKP Makassar kala dipertemukan dengan Pelda Daniel di Mapolrestabes Makassar. Ia sempat menumpahkan semua pengakuannya kepada ayah korban. Bahkan, sejumlah fakta baru juga ditemukan langsung oleh Daniel usai menjalani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pelapor di hadapan penyidik. ⠀ "Iya, sudah saya (ketemu dengan tersangka). Cuma ya dijaga (penyidik) begitu, kan," beber Daniel saat dikonfirmasi FAJAR, Selasa, 19 Februari. Anggota TNI AU itu juga semakin berang. Pasalnya, penganiayaan senior-senior tak hanya terjadi malam hari. Korban sudah dijemput lebih awal para seniornya. Itu saat Aldama baru saja tiba di kampus, usai diantarkan sendiri oleh Daniel. Hukuman-hukuman ala senior berlanjut hingga malam hari. ⠀ "Nah, ternyata Rusdi cuma kena apesnya saja karena waktu itu Aldama sudah oleng (dipukuli sejak siang). Dia cuma (pukul) pelan saja. Rusdi dikasih tahu sama letting-lettingnya sesama senior kalau tinggal dia saja yang belum ambil jatah (hukuman Aldama)," terang Daniel berapi-api. Lelaki berusia 43 tahun itu semakin yakin kalau tersangka pembunuhan anaknya lebih dari satu orang. Download with nice filename | Makassar Info Berita Terbaru



Muhammad Rusdi (21) hanya bisa pasrah dengan hukuman yang dijalaninya. Labelnya sebagai pembunuh Aldama Putra (19) bakal dibawanya seumur hidup.

Taruna tingkat 2 Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar itu tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Air mata bercucuran. Berulang kali, ungkapan maaf berhamburan dari mulutnya yang bergetar. Ia sungguh menyesali kejadian yang menewaskan anak semata wayang Pelda Daniel Pongkala itu.

"Maafkan saya, Pak. Biar bapak mau bunuh saya sekarang juga. Namun saya yakin tidak sendiri (menyebabkan kematian Aldama, red). Saya tidak mau kalau cuma saya saja yang jadi kambing hitam. Banyak ini, Pak," cecar Rusdi.

Seperti itulah kondisi tersangka kasus penganiayaan taruna ATKP Makassar kala dipertemukan dengan Pelda Daniel di Mapolrestabes Makassar. Ia sempat menumpahkan semua pengakuannya kepada ayah korban. Bahkan, sejumlah fakta baru juga ditemukan langsung oleh Daniel usai menjalani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pelapor di hadapan penyidik.

"Iya, sudah saya (ketemu dengan tersangka). Cuma ya dijaga (penyidik) begitu, kan," beber Daniel saat dikonfirmasi FAJAR, Selasa, 19 Februari.

Anggota TNI AU itu juga semakin berang. Pasalnya, penganiayaan senior-senior tak hanya terjadi malam hari. Korban sudah dijemput lebih awal para seniornya. Itu saat Aldama baru saja tiba di kampus, usai diantarkan sendiri oleh Daniel. Hukuman-hukuman ala senior berlanjut hingga malam hari.

"Nah, ternyata Rusdi cuma kena apesnya saja karena waktu itu Aldama sudah oleng (dipukuli sejak siang). Dia cuma (pukul) pelan saja. Rusdi dikasih tahu sama letting-lettingnya sesama senior kalau tinggal dia saja yang belum ambil jatah (hukuman Aldama)," terang Daniel berapi-api.

Lelaki berusia 43 tahun itu semakin yakin kalau tersangka pembunuhan anaknya lebih dari satu orang.

Download with nice filename



Sumber : instagram : sosmedmakassar

LiputanMakassar.com Kami Mengumpulkan serta Menyajikan berita dari sumber terpercaya baik media massa terkemuka di Indonesia maupun akun sosmed yang memiliki integritas dalam menyajikan berita keadaan di Makassar.

Adbox
loading...